REVIEW BAB V
METODOLOGI PENELITIAN
Nama :
Yehuda Anugrah Ramba
NIM :
45217048
4B/D4
ADMINISTRASI BISNIS
POLITEKNIK
NEGERI UJUNG PANDANG
2020/2021
Unsur-Unsur Penelitian
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hasil penelitian adalah menggunakan unsur-unsur penelitian ilmiah untuk memeroleh hasil yang lebih valid.
A. KONSEP
Konsep adalah abstraksi mengenai fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan, keolompok atau individu tertentu. Menurut Wahyuni (1994), konsep adalah abstraksi atau generalisasi dari suatu realita atau fenomena, dan cara menjelaskannya digunakan satu kata atau lebih agar dapat dikomunikasikannya.
B.
KONSTRUK
Konstruk yaitu suatu bayangan atau ide yang diciptakan untuk suatu penelitian dan atau mengembangkan teori yang dikehendaki. Konstruk lebih kompleks dibandingkan dengan konsep-konsep karena konstruk dibangun dengan mengkombinasikan konsep-konsep yang lebih sederhana, terutama jika idea tau image kita dimaksudkan untuk menyampaikan subjek yang tidak secara langsung diobservasi, contoh: konstruk “opini kerja” sedangkan contoh konsep “pekerja”.
C.
PROPOSISI
Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep. Manasse Malo (1986) berpendapat bahwa proposisi adalah “suatu pernyataan yang terdiri atas satu atau lebih dari satu konsep atau variabel”. Proposisi yang terdiri dari satu konsep ata variable lazimnya disebut proposisi yang univariat. Kemudian suatu proposisi yang menyangkut di antara dua konsep atau variabel, lazimnya disebut proposisi bivariat. Sedangkan suatu proposisi yang menyangkut hubungan di antara lebih dua konsep lazimnya disebut proposisi yang multivariat.
Tipe Proposisi:
1. Aksioma (postulat), yaitu suatu proposi yang kebenarannya tidak dipertanyakan lagi oleh peneliti sehingga tidak perlu lagi diuji dalam suatu penelitian.
2. Teorm, yaitu proposisi yang disederhanakan dari aksioma. Dengan kata lain pernyataan yang dideduksikan dari sejumlah aksioma atau postulasi.
D.
VARIABEL
Yang dimaksud variabel menurut penulis adalah sesuatu hal yang mempunyai variasi nilai. Misalnya variabel jenis kelamin. Variasi nilainya adalah laki-laki dan perempuan. Menurut Hatch & Farhady (1981) mengemukakan bahwa variabel adalah sebagai atribut dari seseorang atau objek yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan lain atau objek dengan objek lain.
E.
TEORI
Pada dasarnya pengetahuan diperoleh melalui pendekatan ilmiah, yaitu melalui penelitian ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah dan dibangun atas teori tertentu. Sedangkan yang dimaksud teori yaitu serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep. Definisi ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh Karlinger (1973), adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang menyajikan fenomena-fenomena secara sistematis dan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena tersebut”.
Fungsi Teori:
1. Sebagai identifikasi awal dari permasalahan penelitian dengan menampilkan kesenjangan, bagian-bagian yang lemah dan ketidaksesuaiannya dengan penelitian terdahulu dan memberikan alas an perlunya penelitian.
2. Untuk mengumpulkan semua konstruk, atau konsep yang berkaitan dengan topic penelitian dengan pertanyaan yang berkaitan dengan topic penelitian dengan pertanyaan yang terinci sebagai pokok masalah penelitian.
3. Untuk menampilkan hubungan atau variabel, dapat dibandingkan dengan hasil-hasil penelitian dengan temuan-temuan terdahulu.
F.
KERANGKA
BERPIKIR
Uma Sekaran (1992), mengemukakan bahwa, kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang urgen. Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen. Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigm penelitian. Oleh karena itu, setiap penyusunan paragdigma penelitian harus didasrkan pada kerangka berpikir.
Pada dasarnya kerangka berpikir adalah penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan penelitian. Kerangka berpikir disusun berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan.
G.
HIPOTESIS
Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian dapat didasarkan pada permasalahan penelitian dan atau tujuan penelitian. Di dalam suatu penelitian tidak semua menggunakan hipotesis karena hipotesis bukanlah suatu keharusan. Dengan menggunakan deduksi logika, teori dikembangkan atau diuji lagi. Konsep yang ada dalam teori dikembangkan menjadi konsep baru atau konsep lama yang disesuaikan. Pernyataan tentang konsep yang terakhir ini mungkin benar dan mungkin salah bila diuji dengan fenomena hasil observasi disebut proposisi, proposisi yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga bisa diuji secara empiris.
1. Pengertian Hipotesis
Hipotesis yaitu suatu kesimpulan sementara, tetapi kesimpulan itu belum final, masih harus dibuktikan kebbenarannya atau hipotesis adalah suatu jawaban sementara atau dugaan sementara dimana ada kemungkinannya benar dan juga kemungkinan salah. Sangat penting diperhatikan oleh peneliti bahwa tidak boleh mempunyai keinginan kuat agar hipotesisnya terbukti dengan cara mengumpulkan data yang hanya bisa membantu keinginannya, atau memanipulasi data sedemikian rupa sehingga mengarah ke terbuktinya hipotesis. Hipotesis yang dirumuskan harus bersikap: (1) menerima fakta apa adanya jika hipotesis tidak terbukti; (2) mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tanda bahwa ddata yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis.
2. Jenis Hipotesis
Adapun jenis-jenis hipotesis adalah sebagai berikut:
a. Hipotesis deskriptif, yaitu hipotesis yang secara khusus menyatakan keberadaan ukuran, bentuk, atau distribusi suatu variabel.
b. Hipotesis relasional, yaitu suatu hipotesis yang menggambarkan hubungan antar variabel.
3. Peranan Hipotesis
a. Sebagai pedoman dalam pelaksanaan penelitian.
b. Dengan hipotesis arah penelitian dapat lebih jelas, variabel apa yang dibutuhkan, bagaimana mengukur dan menganalisa.
c. Dengan membuat hipotesis, akan diketahui informasi apa yang relevan untuk bahan kajian dan mana yang tidak.
d. Hipotesis akan memudahkan dalam membuat desain penelitian.
e. Hipotesis membantu peneliti untuk membuat rancangan kesimpulan sebagai hasil akhir dari suatu penelitian.
Syarat-syarat Hipotesis
a. Hipotesis harus sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.
b. Hipotesis yang dirumuskan harus bisa diuji dengan data empiris.
c. Hipotesis harus tidak terlalu banyak membutuhkan asumsi.
H.
DEFINISI
OPERASIONAL
Untuk setiap variabel yang digunakan dalam suatu penelitian, harus didefinisikan secara jelas. Tanpa definisi yang jelas, suatu konsep atau variabel akan menimbulkan berbagai pengertian, dan ini hanya akan mengundang masalah. Pelaksanaan yang efektif dari suatu penelitian, akan menjadi sulit jika terjadi kesenjangan pengertian dari suatu konsep atau variabel. Dengan mengetahui definisi operasional, yang merupakan petunjuk tentang suatu variabel diukur, sangat membantu dalam mengadakan komunikasi antar peneliti dengan definisi operasional seorang peneliti akan mengetahui baik buruknya pengukuruan konsep.
Dalam setiap permasalahanu penelitian selalu ditemui beberapa konsep tertentu yang hendak diteliti. Namun untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan konkrit terhadap konsep-konsep yang abstrak (constructs) yang dipergunakan, maka perlu dijelaskan dalam bentuk definisi operasional.
Definisi operasional menurut Kerlinger (1996:51), adalah meletakkan arti pada suatu konstruk atau variabel dengan menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu untuk mengukur konstruk atau variabel itu. Definisi operasional menjabarkan pengertian suatu konsep yang abstrak dengan menurunkan pada tingkat yang lebih konkrit agar konsep tersebut dapat diukur secara empiris.

